Fatwa Qardhawi: Hukum Mengkonsumi Narkoba

REPUBLIKA.CO.ID, Ganja, heroin, serta bentuk lainnya baik padat maupun cair yang terkenal dengan sebutan mukhaddirat (narkotik) adalah termasuk benda-benda yang diharamkan syara’ tanpa diperselisihkan lagi di antara ulama.
Dalil yang menunjukkan keharamannya adalah sebagai berikut:
1. Ia termasuk kategori khamar menurut batasan yang dikemukakan Amirul Mukminin Umar bin Khathab ra, “Khamar ialah segala sesuatu yang menutup akal.”
Yakni yang mengacaukan, menutup, dan mengeluarkan akal dari tabiatnya yang dapat membedakan antar sesuatu dan mampu menetapkan sesuatu. Benda-benda ini akan memengaruhi akal dalam menghukumi atau menetapkan sesuatu, sehingga terjadi kekacauan dan ketidaktentuan, yang jauh dipandang dekat dan yang dekat dipandang jauh. Karena itu sering kali terjadi kecelakaan lalu lintas sebagai akibat dari pengaruh benda-benda memabukkan itu.
2. Barang-barang tersebut, seandainya tidak termasuk dalam kategori khamar atau “memabukkan,” maka ia tetap haram dari segi “melemahkan” (menjadikan loyo).

Imam Abu Daud meriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwa Nabi SAW melarang segala sesuatu yang memabukkan dan melemahkan (menjadikan lemah).”
Al-mufattir ialah sesuatu yang menjadikan tubuh loyo tidak bertenaga. Larangan dalam hadits ini adalah untuk mengharamkan, karena itulah hukum asal bagi suatu larangan, selain itu juga disebabkan dirangkaikannya antara yang memabukkan—yang sudah disepakati haramnya—dengan mufattir.
3. Bahwa benda-benda tersebut seandainya tidak termasuk  dalam kategori memabukkan dan melemahkan, maka ia termasuk dalam jenis khabaits (sesuatu yang buruk) dan membahayakan. Sedangkan diantara ketetapan syara’, bahwa lslam mengharamkan memakan sesuatu yang buruk dan membahayakan, sebagaiman firman Allah dalam menyifati Rasul-Nya di dalam kitab-kitab Ahli Kitab, “…Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…” (QS. Al-A’raf: 157).

Dan Rasulullah saw bersabda, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh memberi bahaya (mudarat) kepada orang lain.”
Segala sesuatu yang membahayakan manusia adalah haram. “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’: 29).

“…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan…” (QS. Al-Baqarah: 195).

Dalil lainnya  mengenai  persoalan  itu  ialah  bahwa  seluruh pemerintahan (negara) memerangi narkotik  dan menjatuhkan hukuman  yang  sangat  berat  kepada  yang  mengusahakan dan mengedarkannya. Sehingga pemerintahan suatu  negara  yang memperbolehkan khamar dan minuman  keras  lainnya  sekalipun, tetap memberikan hukuman berat kepada siapa saja yang terlibat narkotik. Bahkan sebagian  negara menjatuhkan  hukuman  mati kepada  pedagang dan pengedarnya. Hukuman ini memang tepat dan benar, karena  pada  hakikatnya  para  pengedar  itu  membunuh bangsa-bangsa  demi mengeruk kekayaan. Oleh karena itu, mereka lebih layak mendapatkan hukuman qishash dibandingkan orangyang membunuh seorang atau dua orang manusia.
Syekhul lslam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya mengenai apa yang wajib diberlakukan terhadap orang  yang mengisap  ganja  dan  orang  yang  mendakwakan bahwa semua itu jaiz, halal, dan mubah?
Beliau menjawab, “Memakan (mengisap) ganja yang keras ini  terhukum  haram,  ia termasuk  seburuk-buruk benda kotor yang diharamkan. Sama saja hukumnya, sedikit atau banyak, tetapi  mengisap  dalam  jumlah banyak  dan  memabukkan  adalah haram menurut kesepakatan kaum Muslim. Sedangkan orang yang  menganggap  bahwa  ganja  halal, maka  dia  terhukum  kafir  dan diminta agar bertobat. Jika ia bertobat maka selesailah  urusannya,  tetapi  jika  tidak  mau bertobat  maka  dia  harus dibunuh sebagai orang kafir murtad, yang tidak perlu dimandikan jenazahnya, tidak perlu dishalati, dan  tidak boleh dikubur di pemakaman kaum Muslim. Hukum orang yang murtad itu lebih buruk daripada orang Yahudi dan Nasrani, baik ia beritikad  bahwa hal itu halal bagi masyarakat umum maupun hanya untuk orang-orang tertentu yang beranggapan bahwa ganja  merupakan  santapan  untuk berpikir dan berdzikir serta dapat  membangkitkan  kemauan yang beku ke tempat yang terhormat, dan untuk itulah mereka mempergunakannya.”
Dengan demikian, nyatalah bagi kita bahwa ganja, opium, heroin, morfin, dan sebagainya  yang  termasuk  makhaddirat (narkotik)—khususnya jenis-jenis membahayakan yang sekarang mereka istilahkan dengan racun putih—adalah haram dan sangat haram  menurut  kesepakatan  kaum  muslim, termasuk dosa besar yang membinasakan, pengisapnya wajib  dikenakan  hukuman,  dan pengedar  atau pedagangnya harus dijatuhi hukuman mati, karena ia memperdagangkan ruh umat untuk memperkaya dirinya  sendiri.

Maka orang-orang  seperti  inilah  yang  lebih  utama  untuk dijatuhi hukuman seperti yang tertera dalam firman Allah, “Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 179).

Adapun hukuman  ta’zir  menurut  para  fuqaha  muhaqqiq  (ahli membuat  keputusan)  bisa saja berupa hukuman mati, tergantung kepada mafsadat yang ditimbulkan pelakunya.
Selain itu, orang-orang  yang  menggunakan  kekayaan  dan jabatannya  untuk  membantu orang yang terlibat narkotik ini, maka mereka termasuk golongan. “…Orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi…” (QS. Al-Ma’idah: 33).

Bahkan kenyataannya, kejahatan dan kerusakan  mereka  melebihi perampok  dan  penyamun,  karena  itu  tidak mengherankan jika mereka dijatuhi hukuman seperti perampok dan penyamun. “…Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka memperoleh siksaan yang berat.” (QS. Al-Ma’idah: 33).

Dipublikasi di Fatwa | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Ibu Hamil tak Kuat Berpuasa, Bagaimana Hukumnya?

REPUBLIKA.CO.ID, Bagaimanakah hukumnya ibu hamil yang tak kuat berpuasa saat bulan Ramadhan? Seperti diungkap Ustaz Bachtiar Nasir dalam satu konsultasi, pada dasarnya, perempuan yang se dang hamil juga menyusui jika mereka kuat dan tak khawatir akan keselamatan dan kesehatan diri serta bayinya, dia harus melaksanakan kewajiban puasa. Tetapi, jika dia khawatir kalau ia ber puasa akan membahayakan diri dan bayi nya, menurut pengalamannya atau petunjuk dokter yang bisa dipercaya, ulama sepakat ia diizinkan untuk tidak berpuasa. 

Dari Anas bin Malik, seorang lakilaki dari Bani Abdullah bin Ka’ab, ber kata, “Telah datang kuda Rasulullah ke pada kami. Lalu, aku mendatangi beliau dan mendapatkannya sedang makan. 

Lalu, beliau bersabda, ‘Mendekatlah dan makanlah.’ Aku menjawab, ‘Aku sedang puasa.’ Beliau bersabda, ‘Mendekatlah, akan aku ceritakan kepadamu tentang puasa. Sesungguhnya Allah membe rikan keringanan bagi musafir dari ber puasa dan dari setengah shalat, serta memberikan keringanan bagi wanita hamil dan menyusui dari beban puasa.’” (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, dan al-Nasa`i). 

Tetapi, menurut Ustaz Bachtiar, para ulama berbeda pendapat tentang apa yang harus dilakukan oleh wanita hamil atau menyusui tersebut untuk membayar puasa yang ditinggalkannya itu. Ulama Mazhab Hanafi ber pendapat, wanita hamil atau me nyusui itu hanya diwajibkan mengqadha atau mengganti semua puasa yang ia tinggalkan pada Ramadhan itu di bulan-bulan lainnya. 

Mereka berargumen, wanita hamil atau menyusui itu termasuk pada kate gori mereka yang sakit sehingga ti dak berpuasa pada Ramadhan. Dite gas kan dalam Alquran, orang yang sakit dan sedang dalam perjalanan dibolehkan tidak berpuasa dan meng qadha di bulan lain. Tidak ada kewajiban lainnya. Allah berfirman, “(Yaitu) dalam be berapa hari yang tertentu. Maka, barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain.” (QS al-Baqarah [2]: 184). 

Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat 184 Surah Al-Baqarah itu merupakan keringanan. Yaitu, bagi orang yang sudah sangat tua yang tidak mampu lagi berpuasa untuk berbuka dan membayar fidiah, juga keringanan bagi wanita hamil dan menyusui jika ia khawatir terhadap anaknya agar berbuka dan membayar fidiah. Jadi, di sini ia memasukkan wa nita hamil dan menyusui ke dalam go longan orang yang tidak kuat untuk berpuasa. 

Sehingga, wanita itu hanya diwajibkan berfidiah sebagaimana orang tua yang sudah tidak kuat lagi un tuk ber puasa. Wanita yang hamil dan me nyusui dalam jarak waktu yang sa ngat rapat sehingga tidak sempat meng qadha puasanya karena tahun ini dia hamil, terus menyusui, lalu hamil lagi, Allah tak menginginkan kesulitan baginya. 

Tapi, bagi yang jarak kehamilannya tidak rapat dan mungkin hanya hamil dua atau tiga kali seumur hidupnya, dia harus mengqadha puasanya pada bulan Ramadhan. Sedangkan, Mazhab Syafii dan Hambali berpendapat, jika wanita hamil atau menyusui itu tidak berpuasa karena takut dan khawatir terhadap dirinya, dia hanya diwajibkan mengqa dha puasa yang ia tinggalkan. 

Dalam kasus ini, wanita itu termasuk orang yang sakit, tetapi jika dia tidak berpuasa karena khawatir terhadap anaknya saja, dia harus mengqadha puasa itu dan membayar fidiah. Mereka menjelaskan, riwayat dari Ibnu Abbas yang mengharuskan membayar fidiah itu sebagai tambahan di samping kewajiban mengqadha puasa. 

Mazhab Maliki dan Imam al-Laits berpendapat, hanya wanita menyusui yang diwajibkan mengqadha dan membayar fidiah karena ia bisa membayar orang lain untuk menyusui anaknya. Sedangkan, wanita hamil hanya diwajibkan mengqadha karena kehamilannya itu bagian dari dirinya yang tidak terpisah. Wallahu a’lam bish shawab. 

Dipublikasi di Fatwa | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Fatwa Qardhawi: Tobat Nashuha (3-habis)

REPUBLIKA.CO.ID, Sedangkan yang ketiga, mengenai memakan harta orang lain dengan batil dan dengan cara-cara yang tidak dibenarkan syariat. Maka hak-hak kebendaan wajib dikembalikan kepada pemiliknya, sehingga mati syahid fi sabilillah pun tidak dapat menghapuskan hak damai ini.

Padahal, tidak ada sesuatu yang lebih agung daripada mati syahid di jalan Allah. Namun demikian, ketika Nabi SAW ditanya oleh seseorang, “Wahai Rasulullah, jika aku gugur di jalan Allah apakah itu dapat menghapuskan dosa-dosaku?”

Beliau menjawab, “Ya.” Kemudian beliau memanggil orang itu lagi seraya bertanya, “Apa yang engkau katakan tadi?” Lalu orang itu berkata, “Saya berkata begini…” Kemudian beliau berkata, “Kecuali hutang, Jibril yang memberitahukan kepadaku tadi.” (HR. Muslim).

Hutang dan semua persangkutan harus dikembalikan kepada pemiliknya. Maka memakan harta orang lain dengan jalan suap, ghasab, merampas, menipu, atau dengan cara apa pun yang haram, kemudian mengatakan, ”saya bertobat kepada Allah”, atau hanya dengan naik haji, berjihad, dan mati syahid, maka semua itu belum mencukupi.

Ia wajib mengembalikan hak-hak kehartabendaan tersebut, dan cara-cara lain tidak dipandang memadai dalam hal ini. Jika ia tidak mampu mengembalikannya, maka hendaklah ia pergi kepada si pemilik hak dan meminta kerelaannya, mudah-mudahan mereka merelakannya.

Jika mereka tidak merelakannya, maka ia wajib berniat dalam hati bahwa sewaktu-waktu ia memperoleh penghasilan, ia akan mengembalikannya kepada orang yang mempunyai hak itu.

Dan jika ia meninggal dunia sebelum dapat melunasi utang dan persangkutan kehartabendaan tersebut, sedangkan dia berniat dengan sungguh-sungguh hendak mengembalikannya, maka Allah akan mengurus masalah kerelaan pihak lain yang tersangkut denganya besok pada hari kiamat. Dan Allah Mahapemaaf lagi Mahapengampun.

Dipublikasi di Fatwa | Tag , , , , | Meninggalkan komentar