Survei: Anak Yatim “Berkabung” Hingga Dewasa

NEW YORK–Tepat sekali anjuran Rasulullah SAW untuk memuliakan anak yatim. Bahkan, Beliau menjamin para penyantun anak yatim akan bersanding dengan manusia agung itu di surga.

Sebuah survei terbaru menyebutkan, anak yatim dan mereka yang kehilangan orang-orang terdekatnya ketika masih anak-anak, maka kesedihan akan terus dibawanya hingga dewasa. Survei yang dihajat oleh Comfort Zone Camp, sebuah organisasi nirlaba peduli anak dan Matthew Greenwald and Associates Inc ini menyebutkan, 73 persen orang desawa menyatakan hidupnya akan lebih indah jika mereka tak kehilangan orang tuanya ketika anak-anak.

Secara rinci, dari 1.006 responden yang merupakan pria dan wanita dewasa berusia 25 tahun atau lebih. Mereka adalah orang-orang yang pernah kehilangan saudara, ayah, atau ibu ketika anak-anak. Penelitian yang dilakukan pada kurun November-Desember tahun lalu itu memiliki margin kesalahan 3,2 persen.

Mayoritas partisipan menyatakan, mereka paling tidak membutuhkan waktu satu tahun untuk menerima kondisi baru pascakematian orang tua mereka. Bahkan, penyangkalan kerap terjadi hingga remaja. Mereka juga menyatakan rela menukarkan satu tahun umurnya dengan satu hari saja kembali berkumpul dengan almarhum ayah atau ibu mereka.

Namun bagaimanapun, ada sisi positifnya dari kejadian trauma masa kecil ini. Mereka biasanya cenderung lebih kuat dan  sangat menyayangi keluarganya ketika telah dewasa dan menikah.

“keluarga adalah sebuah kesatuan dimana setiap orang memainkan peran yang signifikan dalam sebuah ikatan serupa rantai,” kata Pete Shrock, direktur program nasional Comfort Zone. Menurutnya, apa yang dialami satu orang tak akan sama dengan apa yang dialami orang lain.

Tidak ada satu cara untuk menafsirkan masing-masing individu gagasan “jauh lebih baik,” kata Pete Shrock, direktur program nasional di Comfort Zone. Tetapi dengan setiap kerugian, hidup ini akan berbeda, namun itu tidak berarti bahwa akan lebih buruk.

Sedang 85 persen orang tua yang kehilangan pasangannya ketika anak-anak mereka masih kecil menyebut, mereka merasa “berat” ketika harus melihat buah hatinya  “kehilangan kebahagian masa kanak-kanak mereka.”

Kate Killion, 53 tahun, salah seorang nara sumber dalam penelitian itu menyatakan kehilangan keluarganya pada usia 8 tahun. Dia menjalani hidup dengan berat, apalagi lingkungannya tak pernah memberikan penjelasan tentang apa itu kematian dan memahami duka cita yang dialaminya.”Orang dewasa mencoba melindungi saya, tapi mereka tak pernah membincangkan tentang kematian. Ini salah. Beri anak kesempatan untuk mengekspresikan kesedihannya dan membantu mereka melewati rasa kehilangan itu sangat penting,” ujarnya.

Killion bisa menerima rasa kehilangan itu ketika usia 20 tahun, saat seseorang mengajaknya berbincang tentang kematian. Dia merasa beruntung karena itu, tidak seperti abangnya — saat orang tuanya meninggal masih berusia 12 tahun — yang menjadi orang yang tertutup hingga tua. “Ketika kita kehilangan orang tua kita saat belia, dunia seperti berhenti dan hidup berubah. Perlu bertahun-tahun, bahkan hingga puluhan tahun, untuk berdamai dengan rasa kehilangan itu,” ujarnya.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s