Rumah, Tempat Utama Menumbuhkan Budaya Membaca

AMBON–Kepala Perpustakaan dan Arsip Daerah Maluku Femy Sahetapy mengatakan budaya membaca harus dimulai dari keluarga, sehingga nantinya menjadi kebiasaan baik terutama bagi anak-anak. “Menciptakan kebiasaan gemar membaca sangat mudah, tetapi untuk menumbuhkan budaya membaca merupakan hal yang sulit,” katanya di Ambon, Jumat.

Menurut dia, perpustakaan bukan tempat utama untuk menumbuhkan kebiasaan membaca. Oleh karena itu, harus dimulai dari lingkungan keluarga. Jika ini dibiasakan terus menerus, anak-anak akan terbiasa membaca.

“Masyarakat Maluku harus bisa menumbuhkan gerakan membaca dengan memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar. Lebih baik lagi jika dalam keluarga ada perpustakaan, sehingga tidak hanya anak yang membaca, namun juga orang tua,” katanya.

Ia mengatakan saat ini tingkat kesadaran membaca masyarakat Maluku belum terlalu baik, dan hal itu terlihat dari tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan yang cenderung masih sedikit.

Frekuensi kunjungan masyarakat ke Perpustakaan Daerah Maluku saat ini rata-rata 500 orang per hari. Itu pun tidak stabil setiap bulannya, dan hanya pada bulan tertentu seperti April dan November terjadi lonjakan jumlah pengunjung hingga 700 orang per hari.

“Biasanya mahasiswa datang ke perpustakaan karena terdesak mengerjakan tugas, bukan untuk membiasakan diri menjadikan perpustakaan sebagai tempat membaca dan belajar,” katanya.

Ia mengatakan pada Januari hingga Maret tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan menurun, karena kebanyakan yang datang hanya sekadar mengisi kekosongan waktu.

Sedangkan mahasiswa pada bulan-bulan tersebut belum terdesak dengan tugas atau ujian, sehingga masih enggan ke perpustakaan.

Ia menyebutkan koleksi buku di Perpustakaan Daerah Maluku saat ini sebanyak 180.366 eksemplar dari 77.832 judul. Di antaranya buku umum, filsafat, agama, sosial, ilmu terapan, kesenian, hiburan, referensi, sastra, geografi, biografi, dan koleksi daerah.

Menurut Sahetapy, ada 440 judul koleksi daerah yang telah dialih media dalam bentuk keping cakram (compact disc/CD), tetapi pihaknya mengalami keterbatasan pelayanan media ini, karena komputer yang tersedia di perpustakaan hanya sedikit.

“Kami telah memberlakukan sistem ‘online’ buku melalui jaringan internet sejak pekan lalu, sehingga mempermudah pengunjung memperoleh buku-buku yang dibutuhkan, dan tidak hanya dari Perpustakaan Daerah Maluku, tetapi juga dari perpustakaan di seluruh Indonesia,” kata Sahetapy.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s