Muslim dan Inggris: Bagaimana 7 Juli Mengubah Dunia Saya

REPUBLIKA.CO.ID, Ketika Zaiba berpikir mundur hingga lima tahun lalu, Kamis, 7 Juli, iaa mengingat keributan, kemacetan dan lalu-lintas yang carut marut, sirene meraung dan jaringan telepon membludak. Semua begitu hiruk pikuk. Kemudian ia mengingat memandang empat pria yang menjadi sampul setiap surat kabar di bawah headline berjudul tak jauh dari: “Pengebom bunuh diri yang tumbuh besar di rumah” dan “Teroris Muslim Inggris”.

Ada hal khusus, yakni Shehzad Tanweer, yang menarik perhatian Zaiba. Terutama karena ia terlihat paling muda, lebih lembut dari tiga pria yang lain dan juga karena ia lahir beberapa gang dari rumah di mana Zaiba tumbuh besar di Bradford.

Ketika Zaiba memandang Tanweer dan tiga pria lain, ia menangis, mengetahui bahwa mulai sekarang semua akan berubah dan berbeda bagi mereka, bagi Muslim Inggris. Ia juga berduka atas masa lalu, atas masa di mana tak ada ekstrimisme atau fundamentalis, tak ada Islamisme atau Islamofobia. Tidak ada perang terhadap teror. Untuk saat itu yang ada adalah orang-orang, termasuk Muslim, dengan kehidupan mereka. Dalam sebuah buku “We Are a Muslim, Please” yang dinukilkan oleh Guardian pada 5 Juli, Zaiba menulis panjang.

Asuhan yang saya terima mungkin tidak berbeda dengan ribuan Muslim lain yang lahir di Bardford dan orang tua migran Paksitan. Saya tahu saya adalah Muslim jauh sebelum menyadari saya seorang Inggris. Kata-kata pertama yang saya telah dengar ketika lahir adalah yang diucapkan oleh ayah: Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Syahadat, deklarasi keimanan yang dibisikan tiga kali ke telinga kanan saya.

Lalu setelah itu ada kunjungan rutin ke masjid dan madrasa, bulan puasa, pelajaran mengaji Al Qur’an saat subuh dan juga pernyataan yang kerap dilontarkan Ibu, “Kami adalah Muslim”. Ia akan mengucapkan itu kapan pun ia pikir telah banyak pengaruh barat masuk ke dalam rumah.

Sebagai contoh, pada Minggu malam ketika ada iklan daging babi asap Denmark, atau ketika tayangan favorit salah satu keluarga berjudul My Beautiful Laundrette dan Rita Wolf, bintang acara membuka pakaian atasnya saat ruang keluarga yang penuh paman-paman, itu adalah pertama kali saya pernah mendengar ibu berteriak alih-alih berkata tegas. “Kita adalah Muslim dan kita tak melakukan hal-hal itu. Matikan TV-nya! Kita adalah Muslim!”.

Anda mungkin pernah mendengar pernyataan bahwa Islam lebih dari agama, itu adalah cara hidup. Ada banyak aturan untuk ditaati dan saya lebih banyak bergembira dengan aturan itu ketimbang mengeluh. Saya bahkan ingat sedikit berlebihan dalam Islam, mengulang doa dan dzikir hingga 40 kali ketimbang 33 kali yang dianjurkan, lalu memastikan semua rambut saya tak kelihatan dan tertutup rapat ketika saya mengaji Al Qur’an.

Melakukan semua ibadah itu hanyalah harga kecil dibanding dengan balasan yang akan saya terima di kehidupan sesudah kematian di Surga di mana saya mengenakan pakaian dari Sutra selamanya. Saya akan segar abadi dan selalu muda sepanjang masa.

Ketika menginjak masa remaja ada hal-hal yang mulai berubah. Secara bertahap menyadari saya tinggal di dua hal berbeda, kehidupan tidak sejalan, satu di rumah yang penuh ibadah, Ramadan, menutupi diri dan menaati perintah dan kedua, di sekolah yang penuh tubuh-tubuh berwarna merah muda-putih, teman lelaki, klub malam dan hal-hal yang membelokkan ibadah.

Tak peduli seberapa keras saya mencoba mengatasi konflik tersebut, saya tidak bisa seimbang terhadap dua-duanya–seorang Muslim dan seorang Inggris–dan saya pun mulai berhenti mempraktekan keyakinan saya. Tak masalah terhadap hukuman atas pengingkaran berupa api neraka abadi, saya tak peduli. Saya hanya ingin bisa sejalan.

Tentu, tak semua orang setuju dengan pandangan saya. Pada 1989 ketika saya meninggalkan Bradford untuk pergi ke universitas, banyak Muslim di kota keluar ke jalan-jalan, awalnya untuk membakar buku Salman Rusdhie, Ayat-Ayat Setan dan untuk mendukung fatwa mati Ayatollah Khomeini terhadap pengarang. Tahun itulah pertama kali pemeluk Islam disebut secara rutin dan terbuka sebagai fundamentalis, ekstrimis dan teroris.

Kini, lebih dari dua dekade kami terbiasa dengan label macam itu. Sebuah jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan mayoritas orang di Inggris mengidentikan Islam dengan ekstrimisme dan terorisme. Mungkin setelah pengeboman 7 Juli dan sejumlah rencana teror gagal untuk meledakkan pesawat, klub malam, sebuah bandara dan pusat perbelanjaan, sehingga label pun kian tak mengejutkan.

Tak seorang pun tahu tingka radikalisasi sesungguhnya di kalangan Muslim Inggris. Jutaan uang negara telah dihabiskan lewat strategi pemerintah untuk “mengejar, mencegah, melindungi dan mempersiapkan” dengan inisiatif yang merentang, mulai mendorong dialog antara imam dan pendeta hingga pengawasan ketat 24 jam terhadap mereka yang dicurigai sebagai teroris.

Strategi penghadang terorisme telah dikritik secara luas karena hanya fokus semata-mata pada Muslim dan mengabaikan kelompok ultra kanan. Terlebih strategi itu bahkan memaksa anggota komunitas untuk memata-mata komunitasnya sendiri, menghasilkan salah penangkapan, memperburuk citra Muslim yang telah dipandang negatif.

Sangat sulit untuk mengetahui bagaimana mengatasi masalah jika anda tak memahami apa yang menyebabkan. Tak adanya identitas Inggris, kondisi sosial-ekonomi yang miskin dan kebijakan luar negeri bisa jadi mempengaruhi.

Namun yang kita butuhkan adalah sikap para pemimpin islam untuk menantang secara terbuka pandangan selip tentang Islam dan Al Qur’an yang dipegang oleh para ekstrimis. Memang ada pernyataan tegas dan signifikan melawan keyakinan yang melandasi tindakan pelaku bom bunuh diri oleh seorang ulama terhormat, Dr Tahir Al Qadri, namun kita juga butuh memastikan bahwa pemudia Muslim diajarkan keyakinan yang benar seperti ayah saya mengajari saya sejak kecil.

Saya sendiri adalah seorang Muslim berpendidikan yang belajar mendalam tentang Islam, namun saya tahu bahwa bunuh diri ada dosa tak terampuni dan bahwa anda perlu menghormati agama lain, bahwa anda tidak boleh membunuh atau menyerang orang lain tak bersalah dan bahwa anda memiliki kewajiban terhadap negara di mana anda tinggal, sebuah kontrk sebagai warga negara Inggris, untuk mematuhi hukum yang berlaku dan pemerintahannya.

Berapa kali kalimat ini muncul di Al Qur’an “Demi nama Allah yang maha pengasih dan pengampun”? Kalimat “Bagi Allah tersedia segala ampunan? “Allah lah dan hanya Allah yang menjaga dan memelihara semuanya? Tuhan saya sangatlah baik, penyayang dan pengasih.

Pos ini dipublikasikan di Senggang dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Muslim dan Inggris: Bagaimana 7 Juli Mengubah Dunia Saya

  1. renungan berkata:

    posting menarik.
    terima kasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s