Terus-menerus Berpuasa, Bolehkah?

REPUBLIKA.CO.ID, Selain puasa wajib sepanjang Ramadhan, Rasulullah menganjurkan bagi mereka yang mampu untuk mengerjakan puasa-puasa sunah, antara lain, puasa pada hari Senin dan Kamis, puasa pada hari-hari putih (ayyam al bidh), yaitu tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah. Bagi seorang perempuan dan istri, apakah diperbolehkan untuk melakukan puasa secara terus-menerus, tanpa jeda atau sering dikenal dengan istilah puasa wishal serta puasa setahun penuh atau yang dinamakan puasa dhar? 

Yang dimaksud dengan wishal ialah berpuasa tiga hari secara berturut-turut tanpa berbuka. Mereka yang melakukan puasa tersebut menyambung waktu puasa mereka. Memang benar, Rasulullah SAW pernah melakukan wishal. Dalam puasanya tersebut, Nabi SAW meneruskan puasa sunahnya hingga dua malam berikutnya, lalu berbuka. 

Riwayat tentang aktivitas wishal tersebut diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Abu Hurairah. Tetapi, dalam hadis yang sama, lantas Rasulullah melarang umatnya melakukan hal yang sama. “Janganlah kalian melakukan wishal,” titah Rasulullah. Alasan pelarangan, yaitu bahwa Rasulullah diberi kekuatan berpuasa melebihi umatnya. Dengan melarang wishal maka akan menghindarkan mereka dari rasa sakit sekaligus bentuk kasih sayang Nabi SAW terhadap umatnya. 

Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni, hukum puasa wishal bagi perempuan ialah makruh menurut mayo ritas ulama. Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ menambahkan, ulama sepakat hukum wishal ialah makruh. Di kalangan mazhab Syafi’i, derajat makruh tersebut ialah makruh tahrim, mendekati keharaman.

Sekalipun demikian, bila ia tetap berpuasa maka puasanya tak sertamerta batal. An-Nawawi lantas menyebut beberapa pendapat salaf. Al-Abadari mengatakan, di antara salaf ada yang melakukan wishal, kecuali Abdullah bin Zubair. Mereka berpuasa wishal dengan alasan mengikuti sunah dan sebagai bentuk kecintaan terhadap Rasulullah. 

Demikian halnya dengan hukum puasa setahun penuh, shiyam ad dhar. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amar, Rasulullah menegaskan bahwa tidak ada puasa yang dilakukan sepanjang tahun. Bahkan, untuk menegaskan pelarangan itu, Rasulullah mengucapkan kalimat sebanyak dua kali, “Tidak ada puasa bagi yang berpuasa sepanjang tahun.” 

Ibnu at-Tin, seperti yang diceritakan oleh Ibnu Hajar, menggunakan riwayat ini sebagai dalil tegas pelarangan puasa dahr. Dikisahkan, suatu saat Abdurrahman bin Abu Na’im tengah berpuasa dahr, mengetahui hal itu, Amar bin Maimun berkomentar pedas yang menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap puasa dahr. “Jika para sahabat Nabi SAW melihat, niscaya mereka akan ‘merajamnya’.” 

Apalagi, jika puasa tersebut dilakukan oleh seorang istri maka penekanannya akan lebih kuat. Seorang perempuan yang telah berumah tangga, ia dilarang berpuasa tanpa izin dan atas sepengetahuan suaminya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal bagi perempuan berpuasa tanpa izin suaminya, sedangkan suaminya ada.” (HR Muttafaq ‘Alaih). 

Imam an-Nawawi menerangkan, sebagian ulama berpandangan, hukum puasa yang dilakukan seorang istri tanpa izin suami ialah makruh. Tetapi, pendapat yang benar ialah haram berpuasa baginya jika tak diketahui oleh pasang annya. Alasan pengharaman ialah suami berhak mengajaknya berhubungan intim, kapan pun selama dalam kondisi bersih dari haid. Dengan berpuasa, hak tersebut akan terhalangi. 

Apakah puasa yang dilakukan tetap sah meskipun tanpa izin suami? Menurut mayoritas ahli fikih, puasa sunah yang dikerjakan tetap sah dengan unsur keharaman di dalamnya. Di ka langan mazhab Hanafi, cukup makruh tahrim saja. Mazhab Syafi’i mengerucut kan puasa sunah yang diharamkan adalah yang berulang-ulang sepanjang hari, seperti wishal atau puasa dhar. 

Sedangkan, jika puasa tersebut tidak berturut-turut, misalnya, puasa Arafah, ‘Asyura, atau enam hari pada Syawal, ia boleh berpuasa tanpa izin selama tidak ada larangan dari suami. Tapi, kalau suami melarang maka tetap tidak diperkenankan puasa. Larangan ini hanya berlaku ketika suami berada di rumah, sedangkan saat suami tidak berada di rumah, tengah keluar kota, misalnya, menurut mazhab Syafi’I, tidak perlu izin. 

Dipublikasi di Fatwa | Tag , , | Meninggalkan komentar

Hewan Menjijikkan Bolehkah Dikonsumsi? (2-habis)

REPUBLIKA.CO.ID, Demikian halnya dengan pengharaman ular. Hewan tak berkaki itu diharamkan karena dikategorikan binatang yang wajib dibunuh. Mengkonsumsi ular, termasuk pula mengonsumsi daging, darah, dan empedunya.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, “Kami tengah bersama Nabi di sebuah gua dan saat itu turun pada beliau ayat, ‘Demi Malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan,’ (QS Al-Murshalaat: 1). Ketika kami mengambil air dari mulut gua, tiba-tiba muncul seekor ular di hadapan kami. Beliau pun bersabda, ‘Bunuhlah ular itu!’ Kami pun berebut membunuhnya dan aku berhasil mendahului. Rasulullah SAW bersabda, ‘Semoga Allah melindungi dari kejahatan kalian sebagaiman Dia melindungi kalian dari kejahatannya.'” (HR Bukhari dan Muslim).

Hewan-hewan itu, selain dinyatakan wajib dibunuh, keberadaannya bagi umat Islam tidak laik juga dikonsumsi. Jenis-jenis tersebut dianggap menjijikkan, sebagaimana cacing. Binatang yang menjijikkan tidak boleh dikonsumsi. Allah SWT berfirman, “Dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. Al-A’raf: 157).

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin mengatakan, kriteria binatang yang buruk dan menjijikkan pada setiap orang dan tempat pasti berbeda. Ada yang menjijikkan pada seseorang misalnya, tetapi tidak menjijikkan pada yang lainnya. Maka, yang dijadikan standar oleh para ulama adalah tabiat dan perasaan yang normal (salim) dari orang Arab yang tidak terlalu miskin yang membuatnya memakan apa saja.

Ia menambahkan, bila binatang tersebut tidak didapati di Jazirah Arab, barometer jijik atau tidaknya dikembalikan pada kebiasaan yang berlaku di masyarakat setempat. “Jadi, menurut ukuran mayoritas masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan, pendayagunaan daging-daging hewan yang dikategorikan jijik dan diharamkan itu untuk tujuan obat diperbolehkan. Dengan catatan, tidak lagi ditemukan alternatif obat yang halal dan aman dikonsumsi. Selama masih terdapat obat halal, haram hukumnya mengkonsumsi daging-daging itu dengan alasan pengobatan. Karenanya, agar lebih aman ia mengimbau masyarakat agar menghindari konsumsi daging hewan-hewan yang menjijikkan.  

Dipublikasi di Fatwa | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Hewan Menjijikkan Bolehkah Dikonsumsi? (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Ada banyak alternatif daging hewan yang laik dan halal dikonsumsi. Tetapi, beberapa jenis hewan yang oleh sebagian kalangan dianggap bermanfaat dan lezat serta cita rasa yang menggoyang lidah itu, belum tentu mendapat respons positif dan divonis halal menurut kacamata syariat.

Beberapa hewan yang kerap dikonsumsi, bahkan termasuk kategori hewan yang haram untuk dikonsumsi. Indikator keharamannya bisa beragam. Bisa jadi karena hewan tersebut termasuk jenis binatang yang diperintahkan dibunuh atau dianggap sebagai kelompok hewan yang menjijikkan.

Padahal, secara tegas perintah mengkonsumsi makanan yang halal, tak terkecuali daging binatang, itu ditegaskan dalam Alquran surat Al-Maidah ayat 88: “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah direzkikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya.”

Di antara jenis daging hewan yang beredar luas dan menjadi santapan bagi segelintir orang ialah:

Darah dan empedu ular kobra

Sebagian orang percaya ular kobra memiliki khasiat yang beragam. Ragam kegunaan itu antara lain, untuk mengobati sakit katarak, mata minus, dan juga sebagai pencegahan penyakit mata lainnya. Sedangkan empedunya dipercaya dapat digunakan sebagai penawar racun dan penambah stamina bagi laki-laki dewasa.

Cacing

Kini, tengah marak pembudidayaan cacing untuk dikonsumsi. Jenis-jenis yang paling banyak dikembangkan oleh manusia berasal dari famili Megascolicidae dan Lumbricidae dengan genus Lumbricus, Eiseinia, Pheretima, Perionyx, Diplocardi, dan Lidrillus. Di antara jenis-jenis tersebut, terdapat tiga jenis cacing yang menyukai bahan organik dengan bahan dasar pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan, yaitu Pheretima, Periony, dan Lumbricus.

Daging kera dan tokek
Masyarakat memercayai dengan mengkonsumsi daging kera, bermanfaat bagi penyembuhan penyakit gatal atau borokan. Selain daging kera, ada lagi obat gatal, yaitu daging tokek. Penggunaan daging kedua binatang itu telah menjadi tradisi yang mengakar di sejumlah komunitas. Bahkan tak jarang, mereka mengkonsumsi dagingnya bukan untuk tujuan obat, melainkan mengejar kenikmatan dan kepuasan.  

Dasar keharaman
Tokek termasuk hewan yang haram untuk dimakan. Keharamannya karena hewan berkaki empat itu termasuk hewan yang diperintahkan dibunuh. Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash, dia berkata, “Nabi  memerintahkan untuk membunuh tokek dan menyebutnya fasiq kecil.” (HR Muslim).

Dipublikasi di Fatwa | Tag , , , | Meninggalkan komentar